EBOOK DOWNLOAD

Bahaya Tungau Debu Rumah

Posted on: 24 Oktober 2009

tungauTungau debu rumah merupakan binatang sejenis kutu yang ukurannya sangat kecil, yakni 250-300 mikro sehingga baru terlihat di bawah mikroskop dengan pembesaran minimal 20x.

Binatang super mini ini tak dapat dilihat dengan mata biasa, melainkan harus menggunakan mikroskop. Ukurannya sangat kecil, namun dapat menyebabkan banyak penyakit. Reaksi alergi akibat si tungau itu dapat mengenai mata hingga kulit. Lalu bagaimana mengatasinya?

Bila dilihat dari sisi fisiknya, bentuk binatang ini lonjong dengan jumlah kaki 8 buah. Binatang mikrospis itu diembel-embeli kata “debu” di belakang namanya karena hidupnya dari debu. Debu sebenarnya tumpukan dari bermacam-macam partikel yang salah satunya adalah sel kulit mati. Sesuai dengan nama latinnya, Dermatophagiodes (dermato = kulit manusia, phagoid = makanan), sumber makanan TDR adalah serpihan kulit manusia. Hal tersebut terkait langsung dengan habitat tempat TDR berkembang biak. “Setiap hari kulit manusia mengelupas, terutama saat berbaring. Maka tak heran bila TDR paling banyak ditemukan di tempat tidur atau karpet. Selain yang lembab dan tentunya berdebu, seperti tumpukan buku tua, benda berbulu, selimut, sofa, dan sebagainya.” jelas Prof. DR. Dr. Heru Sundaru, SpPD-KAI, Guru Besar Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI -RSCM.

Dermatophagoides banyak jenisnya, yang paling banyak adalah Dermatophagoid pterronyssinus. “Selain itu, di Negara tropis seperti di Indonesia juga dapat ditemui jenis lain, misalnya Dermatophagoides farinei dan Blomia tropical,” kata Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K), staf Divisi Alergi Imunologi FKUI. Di tubuh TDR, terutama kotoran, mengandung protein tertentu yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Karena ukurannya yang sangat kecil, maka TDR sangat ringan sehingga mudah sekali diterbangkan oleh angin dan terhirup masuk ke dalam saluran nafas. Bila sudah begitu, orang yang memang memiliki bakat alergi dapat timbul reaksi mual dari bersin-bersin dan pilek, batuk dan mengi (asma), mata gatal-gatal dan kulit biduran (atau eksim).

Prof. Heru menjelaskan, alergi yang ditimbulkan oleh TDR mengikuti hukum alergi pada umumnya. Reaksi alergi hanya akan timbul bila seseorang memiliki kecenderungan alergi yang didapatkan dari keturunan dan alergen (zat yang menimbulkan alergi). Bila tidak terdapat salah satu dari dua hal tersebut, maka tidak akan timbul keluhan. Reaksi alergi akan terjadi langsung apda beberapa menit setelah terpajan dengan alergen dan bertahan beberapa jam atau lebih lama bila tidak segera menjauhi dari alergen tersebut.

Penelitian yang dilakukan Prof. Heru memberi gambaran bahwa sekitar 70-80% anak dan remaja alergi terhadap TDR. Memang puncaknya pada usia di atas lima tahun hingga 20 tahun. Bentuk alergi TDR yang terbanyak adalah asma. Hal itu senada dengan yang diungkapkan Dr. Zakiudin bahwa penyebab asma pada anak yang tersering adalah alergi karena TDR.

Saat TDR terhirup melalui hidung, maka protein yang terkandung di dalam tubuhnya akan menimbulkan sensitisasi (rangsangan pada system imun / sistem pertahanan tubuh) sehingga akan dihasilkan zat anti alergi. Bila orang tersebut kontak lagi dengan TDR, maka alergen tersebut akan berikatan dengan zat Anti alergi menghasilkan zat kimia lainnya, seperti histamine, yang akan beredar ke seluruh tubuh lewat aliran darah sehingga menimbulkan reaksi alergi di beberapa organ yang berbeda. Di hidung, histamine menyebabkan hidung terasa gatal dan merangsang bersin-bersin dan pilek. Di saluran napas, histamine menyebabkan otot dinding saluran napas mengkerut, saluran napas membengkak, sel radang berkumpul di saluran napas, dan meningkatkan produksi lendir. Hal itu akan menyebabkan batuk, sesak dan mengi (asma).

Untuk mengatasi keluhan alergi yang disebabkan TDR, obat yang diberikan adlah antihistamin. Di hidung, antihistamin biasanya cukup mengatasi rhinitis alergika, namun bila tidak cukup dapat diberikan nasal steroid spray (obat steroid semprot untuk hidung). Tentu saja penggunannya tidak boleh berkepanjangan karena akan menimbulkan efek samping. Pada asma terdapat dua golongan obatyakni controller obat untuk mengontrol agar serangan tidak terjadi / dijarangkan, sedangkan reliever adalah golongan obat untuk mengatasi serangan asma akut. Asma juga banyak menggunakan steroid, padahal obat jenis itu tidak boleh dipakai berkepanjangan. Karena itu, yang paling penting bukan mengobati, tetapi mencegah.

(sumber : Majalah Perkawinan dan Keluarga)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Tulisan

Cari Uang Disini Tempatnya !

Ebook Kamasutra ebook kamasutra

Obat Herbal Berbagai Penyakit obat herbal
Solusi Verifikasi PayPal Dengan VCC Indonesiawww.kutukutubuku.com

RSS Related Websites

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: