EBOOK DOWNLOAD

Khasiat Mahkota Dewa

Posted on: 30 Desember 2009

Anda tahu Mahkota Dewa? itu lho, tanaman yang cukup populer yang diyakini sebagai obat.

Hal penting untuk diketahui! Seperti halnya brotowali, batang Mahkota Dewa sangat kaya senyawa obat dengan konsentrasi tinggi. Nah, oleh karena itu, pemakaian dengan batang tidak dianjurkan (berbahaya).

Sejak zaman dulu, mahkota dewa digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti lever, kanker, jantung, kencing manis, asam urat, rematik, ginjal, dan tekanan darah tinggi (apakah anda salah satu dari penderita penyakit tersebut? ). Sebagai obat luar, buah dan bijinya berkhasiat untuk mengatasi jerawat, gatal kulit hingga eksim. Dalam wayang purwo, perdu setinggi 5 meter ini dikeramatkan. Siapa pun yang akan memetik buahnya harus menyembah terlebih dahulu. Bagi prajurit yang akan pergi ke medan laga (medan perang🙂 ) wajib memakan buah ini agar sehat, kuat dan selamat.

Dulu, oleh para bangsawan Jawa, mahkota dewa dikenal dengan nama makuto dewo, makuto ratu, atau makuto rojo, dan hanya bisa dijumpai di lingkungan keraton Jogja dan Solo (orang Cina menamakannya Pau, yang artinya obat pusaka). Tetapi karena buahnya besar, sebagian ahli botani lebih suka memberikan nama latin Phaleria Macrocarpa (macro = besar). Asal tanaman ini berasal dari Tanah Papua, Irian Jaya. Entah bagaimana, dalam beberapa tahun terakhir ini mahkota dewa menjadi populer kembali sebagai tanaman obat yang berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Popularitasnya hampir menyamai Michael Jackson (he…. bercanda :)), maksudnya popularitasnya tidak hanya terbatas di daerah Jawa saja, tetapi meluas hingga ke Malaysia. Buah merupakan ciri khasnya.

Tanaman perdu ini tumbuh di daratan rendah hingga ketinggian 1200 mdpl. Namun pertumbuhan yang paling baik di daerah yang berketinggian 10 – 1000 mdpl. Tajuk tanaman bercabang-cabang, umumnya tumbuh setinggi 1.5 sampai 2.5 meter (tapi ada juga yang mencapai 5 meter). Daunya berbentuk lonjong, langsing memanjang, dan berujung lancip, kalo diliat selintas mirip daun jambu air, tetapi ukurannya lebih langsing dan lebih liat. Bunganya berbentuk terompet (jadi inget taun baruan🙂 ), ukurannya seukuran bunga cengkih, berwarna putih. Baunya harum, bunga keluar sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Buahnya yang berwarna merah marun dan unik, menjadikan tanaman ini sering dimanfaatkan sebagai tanaman hias.

Buahnya bulat seperti bola pingpong (kaya lagu siapa ya?), yang muda berwarna hijau dan bila sudah tua berwarna merah marun terang. Warna buahnya mencolok, terlihat lebih kontras dengan tajuk yang rimbun dan mungil. Batangnya berkayu dan bergetah sehingga sulit dicangkok. Bila hendak mencangkok, batang yang telah dikupas harus dikeringkan dan diolesi dengan krimhormon perangsang pertumbuhan akar, baru dibungkus (usahakan krim hormon tidak rontok). Perbanyakan tanaman lebih sering dilakukan dengan biji, meskipun pertumbuhannya lama. Setelah bertunas di tempat persemaian, biji dipindahkan ke media penanaman permanen (di tanah halaman atau pot). Delapan bulan hingga setahun kemudian tanaman ini mulai berbunga (lumayan lama ya🙂 ).

Pemanfaatan kulit buah

Di dalam daun dan kulit buah mahkota dewa, tersimpan senyawa alkaloid, saponin, falvonoid, dan polifenol yang jenisnya belum diketahui (ga tau kalo sekarang🙂 ). Spesifikasi bahan fitokimiawinya juga belum diketahui, namun kesimpulan dari hasil penelitian menyatakan, baik daun maupun buahnya mengandung senyawa antialergi.

Kulit buahnya tebal dengan rasa kelat bercampur pahit, dianjurkan untuk tidak dimakan bahkan bisa menyebabkan keracunan akut. Kandungan senyawa aktif dalam biji sangat tinggi, jika tergigit dapat mengakibatkan lidah kaku, mati rasa, dan badan meriang. Senyawa aktif dalam kulit buah mahkota dewa dapat melarutkan timbunan asam urat. Air rebusnya juga sering dimanfaatkan untuk mengobati rematik, menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari flu sampai kanker rahim stadium akhir.

Secara terbatas, biji mahkota dewa digunakan sebagai obat luar, terutama untuk obat sakit kulit seperti gatal, koreng, kudis, dan eksim. Caranya, biji dihaluskan lalu dibubuhi sedikit air panas, diaduk, penggunaannya harus hati-hati karena senyawa aktifnya bisa terbawa dalam aliran darah (pada orang sensitif, pemakaian luar dapat juga mengakibatkan keracunan).

Walau sudah banyak yang merasakan manfaatnya, keamanan pemakaiannya masih diperdebatkan. Dokter dan ahli pengobatan tradisional banyak yang mengakui bahwa tanaman ini memang sudah lama dimanfaatkan sebagai obat luar (misalnya eksim).

Namun, maraknya pemakaian kulit buah mahkota dewa untuk mengobati penyakit seperti disentri, gout (asam urat), rematik, penyakit kulit, hepatitis/liver, kencing manis, alergi, penyakit akibat kadar lemak darah berlebihan (hiperlipidemia, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, jantung koroner, kanker), membuat para dokter khawatir.

Alasannya, mahkota dewa mengandung racun, sementara secara klinis, khasiatnya belum terbukti. Proses pengeringan memang dapat menghilangkan racun, andai saja racun tersebut bersifat antitoksik. Namun, bila racun tersebut bersifat insektisida (pembunuh serangga), proses pengeringan tidak ada artinya. Dikhawatirkan racun tersebut akan tertinggal di ginjal, dan lama kelamaan dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal.

Dokter yang lain mengingatkan agar pemakai memilih sikap lebih berhati-hati. Mahkota dewa memang beracun tetapi kadarnya rendah (tanpa menyebutkan kadar racunnya). Diakuinya, efek mahkota dewa sebagai obat sangat menarik. Dari berbagai kesaksian, para pemakai umumnya merasa lebih baik. Karena itu mahkota dewa dapat dimasukkan dalam kategori tanaman obat yang pemakaiannya harus dikontrol, sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan harus dihentikan segera setelah penyakitnya sembuh. Artinya, mahkota dewa tidak dapat digunakan secara terus menerus sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan. Dikhawatirkan pemakaian secara terus menerus akan menimbulkan efek apda ginjal dan anemia.

Hampir seluruh informasi mengenai khasiat dan manfaat mahkota dewa lebih banyak berdasarkan pada pengalaman empiris. Dosis penggunaan yang sesuai untuk setiap pengobatan masih bersifat coba-coba. Karena itu diharapkan masyarakat yang menggunakan produk ramuan dengan bahan dasar mahkota dewa, agar seminim mungkin dalam penggunaannya (untuk tiga hari pertama).

Diharapkan pemakai juga sering mengkonsumsi air putih setelah meminum ramuan tersebut.

(diambil dari : majalah perkawinan dan keluarga).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Tulisan

Cari Uang Disini Tempatnya !

Ebook Kamasutra ebook kamasutra

Obat Herbal Berbagai Penyakit obat herbal
Solusi Verifikasi PayPal Dengan VCC Indonesiawww.kutukutubuku.com

RSS Related Websites

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: